Di Posting Oleh : Backpacker (Bang One)
Kategori : Religi
Fitnah yang Terangkat Satu-Satu
![]() |
| Foto by Googgle |
Suatu ketika di masa lalu, ada fitnah yang sempat disebar di antara atasanku di kantor. Reputasiku rusak, kepercayaan di antara kami tipis, komunikasi sulit, dan segalanya jadi serba tidak nyaman.
Beberapa hari lalu, kesempatan itu tiba. Kami bertemu dalam konteks yang santai, dan entah mengapa bisa sampai ke bahasan soal fitnah yang lama berlalu. Barulah didengarkan versiku dengan seksama, barulah gurat sesal muncul di wajahnya. "Kenapa dulu kamu tidak pernah cerita?" tanyanya.
Aku hanya berkata, "Saya paham bahwa manusia punya kecenderungan dikuasai prasangkanya. Kalau sudah punya prasangka buruk, maka saya menjelaskan sampai berbusa pun takkan ada gunanya."
Prasangka itu ibarat kacamata, kalau pakai ukuran yang salah, maka kacamata itu takkan berguna, malah membuat buram pandangan pemakainya.
Ini berlaku tak hanya bagi prasangka buruk, melainkan prasangka baik juga yang tak pada porsinya. Pada orang-orang yang sedang dimabuk cinta contohnya, lantaran prasangka baiknya berlebih, seringkali sulit mencerna pertimbangan berakal sehat yang disampaikan orang lain. Seberapa buruknya perlakuan pasangan, akan dianggap tetap baik saja.
Caraku memandang prasangka inilah yang membuatku lebih sering menelan pahitnya fitnah. Daku percaya, waktu akan memberi jalan bagi kebenaran. Kebaikan dan kejujuran, tak perlu pembelaan, dia akan mendapat podiumnya di waktu yang paling tepat.
Aku banyak menangis tentu saja. Tapi aku percaya, bahkan fitnah tak hadir dengan sia-sia. Mungkin saat itu, Tuhan ingin mengajariku soal ketegaran, kekuatan, dan latihan kesabaran. Bila saat ini fitnah diangkat satu-satu, barangkali memang akan membawa manfaat lebih jika kebenaran terungkap kini.
Aku bisa memaafkan, tapi sulit melupakan, itu kenyataannya. Ada banyak penghinaan yang kuingat satu persatu. Saat dilontarkan, kutelan semuanya sambil berusaha meredam emosi di dadaku. Sering harus kukatakan pada diriku sendiri, "Tenanglah Hera, kamu tidak menjadi hina hanya karena orang-orang berkata demikian, kamu hina saat kamu tahu kamu telah melakukan kesalahan, dosa, dan aniaya."
Pertanyaan yang suka kuajukan, "Kamu ingin tahu kebenarannya atau hanya ingin melampiaskan amarah?" Kebanyakan hanya ingin melampiaskan amarah, maka terang bahwa tak ada gunanya penjelasan. Mereka hanya memerlukan tempat untuk menampung sumpah serapah.
Sialnya saat itu, giliran aku yang menjadi tempat pembuangan sumpah serapah itu. Aku hanya akan diam, menyimak, sambil menutup dengan pertanyaan, "Apa sekarang sudah lega setelah marah-marah?"
Mungkin terkesan kontradiktif, Hera yang lugas dan tegas justru bisa demikian pasrah menghadapi fitnah. Ini beda dengan berita yang menyangkut kepentingan orang banyak, di mana segala kebohongan selayaknya diungkap secepat mungkin. Kalau hanya aku yang menjadi korbannya, dalam urusan yang lebih banyak menyangkut hubungan manusia, aku merasa tak ada salahnya menunggu. Aku tidak suka permusuhan, itu melelahkan. Biarlah orang lain memusuhi saya, tapi tidak sebaliknya.
Kurasa ini juga hasil pembelajaran. Aku belajar dari seorang perempuan hebat yang telah melahirkanku. Seumur hidup, banyak fitnah yang tak bisa dijelaskannya dan baru lama kemudian kebenarannya terungkap. Dia hanya melakukan dua hal, sabar dan konsisten berbuat baik. Karena dengan begitu, lambat laun para pemfitnah pun akan mempertanyakan dan meragukan tudingannya sendiri.
Ahh...ramadhan ini adalah bulan penuh berkah. Alhamdulillah fitnah terangkat satu-satu. Rasa syukurku sendiri sebenarnya cukup, tapi ada seseorang yang mencurahkan hatinya yang pedih lantaran difitnah. Tulisan ini kurangkum untuk kalian, barangkali ada manfaatnya.
Doa nabi Musa yang diajarkan dalam quran biasa kubaca di saat hati terasa sempit (QS Thaha: 25-28), yakni Robbisrohlii sodrii wayassirlii amrii. Wahlul uqdatammillisaani yafkohu kouli. "Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku."
Tetap sabar dan semangat ya teman-teman. Doaku untuk kebaikan kita semua
Tulisan sumber dari facebook Hera Khaerani
Sumber

0 comments:
Post a Comment