Di Posting Oleh : Backpacker (Bang One)
Kategori : Ngecaprak
![]() |
| Foto by google |
NgecaprakNews.com Dikutip dari akun fb Hera Khaerani "Di hari pertama puasa, saya berdialog dengan keponakan saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Percakapan ini saya tuliskan di sini, karena kurasa banyak orang dewasa yang justru harus belajar darinya.
Nama keponakanku Wafa, dia masih belajar menahan lapar dan dahaga saat puasa. Seperti kebanyakan anak-anak, hal tersulit bagi mereka adalah bangun sahur. Dia marah dan menangis karena tidurnya terusik. Dia hanya makan sesuap saat sahur, toh tetap berpuasa sampai adzan magrib berkumandang.
Ketika adzan, aku mengingatkannya untuk solat tepat waktu. Dia bertanya mengapa aku sendiri tidak solat. Daku lantas harus menjelaskan garis besar soal menstruasi. Kukatakan padanya bahwa perempuan dewasa yang sedang haid, tidak boleh solat maupun puasa.
Mendengar itu dia langsung bertanya, "Jadi bibi gak puasa?"
Kujelaskan betul bahwa aku tidak berpuasa. Tapi aku ikut sahur biar tidak makan di sembarang waktu. "Kakak Wafa kan lagi belajar puasa, takutnya nanti kalau lihat bibi Hera makan, Wafa jadi pengen batalin puasa," jelasku.
"Tapi kalau haid harusnya gak boleh puasa?" tanya Wafa memastikan. Aku membenarkan pertanyaan itu.
"Kalau gitu, bibi Hera jangan puasa. Aku mah semangat kok gak akan batal, kan aku mau belajar puasa," katanya.
Lihatlah, ponakanku baru kelas 1 sekolah dasar tapi dia bisa diajak bicara dengan tenang, dan berakal sehat. Sementara itu, banyak orang dewasa yang harus perang urat saraf hanya dalam membicarakan soal apakah warung makan harus tutup atau buka di siang hari saat puasa, tentang apakah boleh makan di depan orang yang sedang berpuasa, dan tentang hal remeh temeh lainnya yang tak layak diributkan.
Aku takkan malu mengakui hal ini, aku sering belajar dari anak kecil, bahkan balita. Seringkali, kewarasan lebih kutemukan pada mereka daripada orang dewasa.

0 comments:
Post a Comment