Di Posting Oleh : Backpacker (Bang One)
Kategori : Religi
ETIKA BERAMAL
TANPA ILMU
![]() |
| Amal Tanpa Ilmu, Seperti Pohon tanpa Buah |
Oleh Ustadz
Armen Halim Naro Rahimahullah
Sebagai seorang
muslim tentu setiap kali mendirikan shalat lima waktu, atau shalat-shalat yang
lainnya. Dia selalu meminta ditunjukan shirathul mustaqim. Yaitu jalan lurus
yang telah lama dilalui oleh orang-orang yang telah diberi nikmat, dan
dijauhkan dari jalan orang-orang maghdhubi `alaihim (orang-orang yang Engkau
murkai), juga jalan orang-orang dhallin (orang-orang yang sesat). Dalam
tafsiran, dua kelompok diatas disebutkan [1], bahwa orang-orang mahgdhubi
‘alaihim adalah Yahudi, sedangkan orang dhallin adalah Nashara.
Berkata Ibnu
Katsir rahimahullah,”Dan perbedaan antara dua jalan -yaitu agar dijauhi jalan
keduanya-, karena jalan orang yang beriman menggabungkan antara ilmu dan amal.
Adalah orang Yahudi kehilangan amal, sedangkan orang Nashrani kehilangan ilmu.
Oleh karenanya, orang Yahudi memperoleh kemurkaan dan orang Nashrani memperoleh
kesesatan. Barangsiapa mengetahui, kemudian tidak mengamalkannya, layak
mendapat kemurkaan. Berbeda dengan orang yang tidak mengetahui. Orang-orang
Nashrani, ketika mempunyai maksud tertentu, tetapi mereka tidak memperoleh
jalannya, karena mereka tidak masuk sesuai dengan pintunya. Yaitu mengikuti
kebenaran. Maka, jatuhlah mereka ke dalam kesesatan.”[2]
Banyak orang
yang menyangka, bahwa banyak amal dan ibadah sudah mendapat jaminan untuk hari
akhiratnya, sekurang-kurangnya merupakan tanda kebenaran dan bukti keshalihan.
Begitulah sering kita dengar, dan itulah fenomena yang terjadi di kalangan kaum
muslimin. Kalaulah kita mencoba untuk mengingat surat yang telah sering kita
dengar ini, maka semua sangkaan dan dugaan kita selama ini, akan bisa kita ubah
untuk hari besoknya. Dapat dibayangkan, seseorang yang mempunyai amalan
sebanyak pepasiran di pantai, akan tetapi setelah ditimbang, dia bagaikan debu
yang beterbangan, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَقَدِمْنَا
إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
Dan Kami hadapi
segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu
yang berterbangan. [Al Furqan:23].
Bukan saja amalannya
tidak dianggap sebagai amalan yang diterima, bahkan dialah penyebab masuknya ke
dalam api neraka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
هَلْ أَتَاكَ
حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى
نَارًا حَامِيَةً
Sudah datangkah
kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk
terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka).
[Al Ghasyiah:1- 4].
Berkata Ibnu
Abbas,”Khusyu`, akan tetapi tidak bermanfaat amalannya,” diterangkan oleh Ibnu
Katsir, yaitu dia telah beramal banyak dan berletih-letih, akan tetapi yang
diperolehnya neraka yang apinya yang sangat panas [3]. Oleh sebab itu, Imam
Bukhari membuat bab di dalam kitab Shahih Beliau, Bab: Berilmu sebelum berucap
dan beramal.”
KEUTAMAAN ILMU
DALAM AL QURAN
Ayat yang menerangkan tentang keutamaan ilmu dan celaan terhadap orang yang
beramal tanpa ilmu sangatlah banyak [4]. Allah Subhanahu wa Ta'ala membedakan
antara orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, bagaikan orang yang melihat
dengan si buta.
أَفَمَنْ
يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى
Adakah orang
yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar
sama dengan orang yang buta? [Ar Ra`ad:19].
Bahkan tidak
sekedar buta, akan tetapi juga tuli dan bisu .
Di berbagai
tempat dalam Al Qur’an Allah l mencela orang-orang yang bodoh, yaitu:
وَلَكِنَّ
أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Akan tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Al Araf:187].
وَأَكْثَرُهُمْ
لَا يَعْقِلُونَ
Dan kebanyakan
mereka tidak berakal. [Al Maidah:103].
Bahkan mereka
disamakan dengan binatang, dan lebih dungu daripada binatang:
إِنَّ شَرَّ
الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya
binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah, ialah orang-orang
yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa. [Al Anfal: 22].
Allah Subhanahu
wa Ta'ala memberitahukan, bahwa orang-orang bodoh lebih buruk dari binatang
dengan segala bentuk dan macamnya. Dimulai dari keledai, anjing, serangga, dan
mereka lebih buruk dari binatang-bintang tersebut. Tidak ada yang lebih
berbahaya terhadap agama para rasul dari mereka, bahkan merekalah musuh agama
yang sebenarnya.
Lebih dari itu,
bahwa syariat membolehkan sesuatu yang pada asalnya haram, karena yang satu
berilmu dan yang satu lagi tidak berilmu. Yaitu dihalalkannya memakan daging
hasil buruan anjing yang diajarkan berburu, berbeda dengan anjing biasa yang
menangkap mangsanya.
يَسْأَلُونَكَ
مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ
الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا
مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Mereka
menanyakan kepadamu,"Apakah yang dihalalkan bagi mereka?"
Katakanlah,"Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap)
oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu
mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka, makanlah
dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas
itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
cepat hisabNya." [Al Maidah:4] [5]
Sedangkan sunnah
dan atsar Salaf sangat banyak sekali yang menerangkan permasalahan ini.
Setelah ini
semua, ketika seorang muslim mengarahkan pandangannya kepada jamaah-jamaah yang
menisbatkan diri kepada Islam, maka didapatkan bahwa dakwah mereka bermuara
kepada suatu persamaan. Yaitu tidak mempedulikan ilmu syariat dan tenggelam ke
dalam lumpur kebodohan. Inilah yang menyebabkan banyaknya terjadi penyelewengan
terhadap pemahaman Islam.
Ini sebelum
mereka, satu kelompok yang disebut Khawarij, sampai-sampai Nabi menyebutkan,
bahwa amalan para sahabatnya jika dibandingkan dengan amalan mereka tidak ada
apa-apanya. Shalat mereka, jika dibandingkan shalat kita tidak apa-apanya.
Mereka orang-orang yang ahli ibadah. Siang harinya bagaikan singa yang
bertempur, dan pada malam harinya bagaikan rahib ... Akan tetapi, apa akhir
dari cerita mereka? Nabi telah mengabarkan kepada kita, bahwa Islam mereka
hanya sebatas kerongkongan saja ... Mereka keluar dari Islam, sebagaimana
keluarnya anak panah dari buruannya; mereka dikatakan anjing-anjing neraka.
Barangsiapa yang berhasil membunuh mereka, akan mendapat ganjaran di sisi Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
berazam, jika Beliau bertemu dengan zaman mereka, maka Beliau akan
memeranginya, sebagaimana diperanginya kaum `Ad ...
Pada masa
sekarang, tumbuh berkembang suatu jamaah. Yaitu jamaah yang didirikan di atas
bid`ah dan khurafat, dan syirik. Didirikan dengan aqidah As`ariyyah
Maturidiyyah. Membaiat para pengikutnya dengan empat tharikat tasawuf: Jistiyyah,
Qadiriyyah, Sahruwardiyyah dan thariqat Naqsyabandiyyah.
Sedangkan pada
masalah aqidah dan tauhid. Mereka tidak lebih mengerti tentang tauhid bila
dibandingakan dengan orang-orang musyrik Arab pada zaman Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam. Mereka hanya mengakui tauhid Rububiyyah dengan tafsiran
syahadat tauhid tersebut. Dan tidak mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan
tauhid Uluhiyyah. Adapun pada tauhid Asma` wa Shifat, maka mereka berada
diantara aqidah Asyariyyah dan Maturidiyyah. Sebagaimana diketahui, bahwa kedua
mazhab tersebut terkhusus dalam tauhid ini, telah melenceng dari mazhab Ahlus
Sunnah wal Jamaah.
Adapun tentang
ibadah dan suluk mereka; maka mereka dibaiat dengan empat thariqat dan
mengamalkan dzikir-dzikir serta shalawat yang dipenuhi bid`ah dan khurafat.
Seperti membaca (la ilaha) empat ratus kali, dan (Allah, Allah) enam ratus kali
setiap hari. Buku shalawat yang sering dibaca oleh mereka, ialah kitab shalawat
yang masyhur bid`ah dan ghuluw kepada Nabi. Yaitu kitab Dala-ilul Khairat,
Burdah.
Adapun kitab
yang paling berarti bagi mereka, apa yang disebut dengan Tablighi Nishab.
Dikarang oleh salah seorang pendiri mereka. Kitab ini nyaris dimiliki dan
dibaca oleh setiap jamaah, melebihi membaca kitab Shahih Bukhari. Kitab ini dipenuhi
dengan khurafat, syirik, bid`ah, dan hadits-hadist palsu, serta hadist-hadist
lemah. Begitu juga dengan kitab Hayat Ash Shahabah, yang dinamalkan mereka,
dipenuhi dengan khurafat serta kisah-kisah yang tidak benar, dan begitu
seterusnya ...
Kesimpulan
tentang jama’ah ini ialah, bahwa mereka merupakan jama’ah yang tidak peduli
terhadap ilmu dan ulama, berdakwah di atas kebodohan [6], dengan bukti hadist
yang selalu mereka dendangkan yaitu, “sampaikan dariku sekalipun satu ayat”.
Hadits ini sekalipun shahih, akan tetapi yang tidak shahih ialah cara pemahaman
mereka terhadap hadits ini. Setiap orang yang masuk ke jemaah ini sudah layak
menjadi juru dakwah dari rumah ke rumah yaitu untuk mengajak kepada jemaah
mereka dengan alasan hadist di atas. Atau mereka membaca buku fadhilah di
masjid ...dan mereka permisalkan bahwa umat Islam sekarang bagaikan (orang yang
sedang tenggelam yang harus diselamatkan). Tidak tahu mereka bahwa belajar
berenang tidak bisa dalam satu hari atau dua, sehingga dia dapat menyelamatkan
yang mau tenggelam tadi, atau malah yang awalnya hendak menolong karena tidak
bisa berenang sama-sama tenggelam kedalam lautan dosa dan kesalahan.
Bukankah pada
zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika salah seorang sahabat
terluka, kemudian junub ketika musim dingin, dan dia bertanya kepada salah
seorang diantara mereka. Apakah ada rukhsah untuk tidak mandi? Yang ditanya
menjawab: tidak! Maka, mandilah sahabat tadi yang menyebabkannya meninggal.
Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar cerita ini, Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam marah besar, dan berkata,”Sungguh kalian telah
membunuhnya. Semoga kalian diberi balasan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Mengapa kalian tidak bertanya jika tidak mengetahui? Karena obat dari tidak
tahu ialah bertanya.”
Yang lebih
menarik untuk mengkaji jama’ah ini ialah, karena mereka jama’ah bunglon.
Berubah setiap hinggap, dan bertukar warna sesuai dengan lingkungannya. Apakah
mereka ini tidak mempunyai pendirian yang kuat dan tidak mempunyai pondasi yang
kokoh? Ataukah demikian metode dakwah mereka, yaitu mengumpulkan semua warna
dan kelompok di bawah naungan kelompok mereka?
Oleh sebab itu,
jama’ah ini yang berada di tempat pembaca, berbeda dengan mereka yang berada di
tempat penulis. Bisa saja, di satu tempat mereka mempelajari suatu pelajaran
yang benar bukan karena ajaran tersebut, akan tetapi karena lingkungan yang
membuatnya terpaksa memulainya dari sana. Dan bisa saja sebaliknya, menjadi
pembawa bendera bid`ah serta sebagai penyebarnya.
Jama’ah ini
paling mudah terpengaruh oleh suasana, karena permasalahan tadi. Yaitu, mereka
tidak dididik di atas ilmu yang shahih. Maka, anda akan melihat mereka bagaikan
baling-baling di atas bukit. Bak sebuah bulu ayam di padang pasir, mengikuti
apa yang dikehendaki oleh angin.
Kalaulah mereka
tidak diikat dengan pertemuan-pertemuan di masjid-masjid dan tamasya-tamasya ke
negeri-negeri kesayangan mereka -sekalipun negeri tersebut adalah tempat sarang
berhala terbanyak di dunia-, maka penulis yakin, mereka akan berantakan. Dan
jama’ah mereka akan terpengaruh oleh jama’ah lain, atau kembali kepada kepada
asal mereka.
Mungkin ada
terbetik pertanyaan. Bukankah keberhasilan mereka mengeluarkan orang-orang dari
tempat-tempat maksiat, dan membuatnya bertaubat ini sebagai salah satu dari
kebaikan dan kesuksesan jama’ah ini dalam berdakwah?!
Maka, kita
perhatikan jawaban Syaikh Aman Ali Al Jami rahimahullah, ketika Beliau menjawab
tentang sebagian dakwah moderen yang mempunyai persamaan dakwah dengan
permasalahan di atas:
... Benar, ia
telah mengeluarkan orang-orang dari tempat-tempat diskotik dan bioskop. Ini
tidak ada yang mengingkarinya. Akan tetapi, setelah ia mengeluarkan mereka dari
tempat-tempat tersebut, apa yang dilakukannya? Apakah kemudian mendakwahi mereka
dengan dakwah, dan dengan metode para anbia` (nabi)? Atau sebaliknya,
mengajarkan mereka dan mengumpulkannya, sehingga mereka terpecah-pecah ke dalam
berbagai macam thariqat tasawuf? Benar ... Akan tetapi, ia telah mengeluarkan
mereka dari jahiliyah kepada jahiliyah. “
Dia tidak
memindahkan mereka kepada pemahaman yang benar tentang Islam. Buktinya, ia
sendiri menganut salah satu thariqat shufi. Adapun orang-orang yang telah
dikeluarkannya dari tempat-tempat diskotik itu, kalau tidak mengambil thariqat
yang dianut olehnya, tentu mengambil thariqat tasawwuf lainnya. Dan apakah
dakwahnya juga membasmi peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala,
yang secara jelas nampak ada di negerinya? Apakah dia telah mengeluarkan
manusia dari thawaf di sekeliling kuburan, seperti kuburan Husain, Zainab dan
Badawi?! Apakah dia telah mengeluarkan manusia dari berhukum dengan hukum
demokrasi kepada berhukum dengan hukum Allah? Inilah yang seharusnya
dilakukannya. Jika begini dakwahnya, tentu dakwah yang dibawanya merupakan
dakwah yang benar. Akan tetapi sebagaimana kata syair:
إِذَا كَانَ
رَبُّ الْبَيْتِ بِالدُّفَّ ضَارِباً
فَشِيْمَةُ أَهْلِ اْلبَيْتِ كُلِّهِمِ الرَّقْصُ
Jika seandainya
tuan rumah berdendang dengan rebana
Tentu semua yang di rumah menari kegemaran mereka
Jika tidak
sampai kepadanya ilmu dan makrifah tentang Islam yang benar, bagaimana mungkin
ia akan meninggalkan kuburan-kuburan tersebut dan memerangi orang yang thawaf
disekelilingnya. Apa yang dapat dilakukannya terhadap orang-orang yang jatuh ke
dalam maksiat tersebut? [7]
Terakhir.
Marilah menuntut ilmu, wahai para pemuda. Sesungguhnya dialah pintu kejayaan
dan keselamatan.
Disalin dari
majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun VII/1420H/1999M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo
Pengen bikin website ?daftar aja disini

0 comments:
Post a Comment